Selasa, 20 September 2011

FILSAFAT DASAR MANUSIA


FILSAFAT DASAR MANUSIA
Allah menciptakan manusia terdiri dari tiga unsur; jasad, ruh, nafsiyah . Sebagaimana dalam surat At Tahrim:66 Allah SWT berfirman “dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-KitabNya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat.”
dan Surah al-Mukminun:13-14: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah (12). Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim) (13). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik”
dan Surah Al-Imran:191 “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
Maka, ada perbedaan diantara jasmani, ruhani, dan nafsiyah. Ke tiga komponen tersebut saling melengkapi satu sama lain dengan fungsi masing-masing dan menyatunya ke tiga komponen tersebut dalam manusia merupakan sebuah kesempurnaan tersendiri.
                
A.    JASMANI
Setiap orang punya pandangan tersendiri mengenai pengertian  mengenai jasmani, diantaranya :
·         Jasmani adalah suatu sifat yang berada di luar atau di sebut fisik, biasanya berhubungan dengan apa yg kita butuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
·         Jasmani adalah jasad atau fisik secara keseluruhan.
·         Jasmani adalah suatu identitasnya manusia dapat dikenal dari tubuh kasarnya, inilah yang disebut dengan rupa tau (rupa manusia, yang dikenal dengan istilah jism.
·         Jasmani adalah tubuh, raga, dapat terlihat secara wujud fisik.
·         Jasmani adalah wujud jasad yang memiliki kesamaan dengan makhluk lain, tetapi memiliki kesempurnaan berbeda dengan makhluk lain.
Pada dasarnya jasmani terdiri dari badan kasar,berupa wujud fisik, sifatnya tergantung pada materi dan memiliki kecenderungan biologis primitif, dapat hancur atau rusak, tetapi merupakan unsur penting bagi eksistensi dan wadahnya unsur kehidupan.
Jasmani, menurut al-Farabi, al-Ghazali,dan Ibn Miskawaih sepakat memiliki bentuk, rupa, berkadar, berwatak kasar dan memiliki rasa serta dalam bentuk materi. Hal tersebut yang menandakan jasmani tidak kekal, dapat rusak,dan bernatur buruk karena : merupakan penjara bagi ruh, mengganggu kesibukan ibadah bagi ruh,dan tidak mencapai ma’rifat kepada Allah SWT.
Jasmani juga memerlukan kebutuhan, contohnya seperti makanan, minuman, pakaian, tidur, buang air kecil dan besar, seks, dan lain sebagainya.Namun kebanyakan manusia selalu merasa tidak puas dengan jasmaninya yang telah di beri oleh Allah yang bisanya berdampak kepada kesehatan manusia itu sendiri jika mereka salah merawat dirinya sehingga jasmani tersebut rusak.
Jasmani mengalami enam tahapan evolusi yakni: pertama; nut`fah, kedua; alaqah, ketiga; mut`gah, keempat; izam, kelima; lahm, dan keenam; peniupan roh. Tahapan ini dialami oleh semua manusia termauk Adam. Adam bukanlah manusia pertama, namun nabi pertama yang sama-sama mengalami evolusi jasmani seperti manusia yang lain
B.     RUHANI
Ruhani termasuk komponen ke dua dalam diri manusia, beberapa pengertiannya ialah :
·         Ruh adalah suci, ciptaan Allah, sehingga dikategorikan sebagai Makhluk. Jadi ruh dalam diri jasad manusia bukanlah Allah itu sendiri.
·         Ruh adalah ciptaan dan milik Allah, yang ditiup masuk oleh Allah ke dalam Jasad manusia. Bila manusia meninggal maka ruh ini akan kembali ke Sang Pencipta.
·         Ruh adalah yang mampu merasakan berbagai perasaan, seperti marah, suka takut, sedih, gembira, senang, sayang, cinta, simpati, jijik, dengki, lega dan sebagainya.
·         Ruh adalah unsur paling halus dan suci, bersih dan mulia yg kekal juga tidak dapat hancur
·         Ruh adalah kebalikan dari jasad atau jasmani
·         Ruh adalah subtansi batin manusia
·         Ruh adalah kesempurnaan jasmani manusia yang bersifat tinggi dan memiliki daya
·         Ruh adalah penggerak keberadaan jasad yang mampu berpikir, mengetahui dan mengingat
Masalah ruh adalah masalah yang cukup rumit karena Allah mengisyaratkan bahwa untuk mempelajarinya harus mempunyai kedalaman ilmu tertentu. Ruh masuk pada tubuh manusia saat manusia siap menerimanya yaitu ketika manusia di bulan ke-empat didalam rahim. Rohani manusia juga mengalami enam tahapan evolusi, yaitu khusyu, wara (menjaga diri), pemenuhan zakat, pengekangan syahwat, pemenuhan amanat, pemeliharaan shalat. Konsep evolusi rohani ini berpuncak pada shalat yang manusia ingat total dengan sepenuh cintanya kepada Allah.
C.    NAFSANI
Komponen selanjutnya dalam manusia yaitu nafsani, yang merupakan penghubung antara jasmani dan ruhani,karena itu ia akan lebih cenderung dan bersifat seperti jasmani tetapi disisilain dapat bersifat seperti ruhani. Beberapa pengertian nafsani :
·         Nafsani adalah potensi dari Allah yang diberi dua kecenderungan baik dan buruk yaitu ilham fujur dan ilham taqwa (Q.S. Al-Syams-8)
·         Nafsani adalah subtansi psikofisik manusia yang memiliki natur gabungan antara jasad dan ruh secara inheren
·         al-Nafs berarti totalitas diri manusia
Nafsani sendiri terdapat beberapa komponen yang dapat menggerakan tingkah laku manusia (membentuk kepribadian manusia),yaitu Jika al-Nafs dalam menghadapi syahwat dengan tenang maka dijuluki al-Nafs al-Muthmainnah sebagaimana dalam al-Qur`an “Hai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridlai ( Q.S. al-Fajr: 27-28)”.
Jika al-Nafs dalam menghadapi syahwat dengan tidak tenang tapi lebih cenderung mengikutinya maka diberi julukan al-Nafs al-Ammarah sebagaimana dalam al-Qur`an “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(Yusuf 53)
Nafs al-Nafs al-Ammarah bisa menjadi al-Nafs al-Muthmainnah manakala seseorang terbebas dari akhlak yang tercela.        
Jika al-Nafs dalam menghadapi syahwat dengan setengah-setengah antara menolak dan menerima tapi lebih cenderung mencela diri sendiri ketika melakukan syahwat maka diberi julukan al-Nafs al-Lawwamah sebagaimana dalam al-Qur`an surat al-Qiyamah ayat 2.Sebagian ulama mengatakan bahwa al-Nafsu al-Lawwamah termasuk nafsu yang baik karena ia senantiasa mencela diri sendiri meskipun sudah bersungguh – sungguh untuk melaksanakan ketaatan .
Selanjutnya, nafsani dilihat dari potensinya di bagi menjadi tiga, yaitu :
·         al-Qalb
            Menurut Al-Ghazali qalb mempunyai dua pengertian. Arti pertama adalah hati jasmani (al-Qalb al-jasmani) atau daging sanubari (al-lahm al-sanubari), yaitu daging khusus yang berbentuk jantung pisang yang terletak di dalam rongga dada sebelah kiri dan berisi darah hitam kental. Qalb dalam arti ini erat hubungannya dengan ilmu kedokteran, dan tidak banyak menyangkut maksud-maksud agama dan kemanusiaan, karena hewan dan orang mati pun mempunyai qalb. Sedangkan qalb dalam arti kedua adalah sebagai luthf rabbani ruhiy. al-Qalb merupakan alat untuk mengetahui hakikat sesuatu.     
            Lapisan Qalb yang terluar disebut al-shadr yang merupakan tempat masuknya godaan penyakit, unek- unek , syahwat, dan segala kebutuhan. al-Shadr itu bisa lapang dan bisa sempit. Ia juga sekaligus munculnya cahaya Islam. Ia juga tempat menyimpan ilmu yang bersumber dari pendengaran. Sifat-sifatnya adalah insyirah dan dlaiq ( QS. 3 : 154. QS: 11 : 12 QS: 15 : 97 QS: 26 : 12-13 )   
            Kadar kebodohan dan kemarahan, dada seseorang menjadi sempit. Dan tidak ada batas kelapangannya. Jika al-shadr sempit dengan kebenaran maka penuh dengan kebatilan
Lapisan Qalb yang kedua disebut al-qalb. Ia sebagai sumber cahaya keimanan, khusu’, taqwa, ridla, yakin, khauf, raja`, sabar, qanaah. Al-qalb ibarat raja dan nafs adalah kerajaan. Sifat-sifatnya a’ma ( QS. 22 :46 ) Lapisan Qalb yang ketiga adalah al-Fuad yang merupakan tempat ma’rifat, bersitan (khawatir) dan penglihatan ( al-ru`yah ) Lapisan qalb yang keempat adalah al-lub yang merupakan tempat cahaya tauhid
·         al-Aql
Ada beberapa pengertian tentang aql. Pertama, aql adalah potensi yang siap menerima pengetahuan teoritis. Kedua, aql adalah pengetahuan tentang kemungkinan sesuatu yang mungkin dan kemuhalan sesuatu yang mustahil yang muncul pada anak usia tamyiz, seperti pengetahuan bahwa dua itu lebih banyak dari pada satu dan kemustahilan seseorang dalam waktu yang bersamaan berada di dua tempat.Ketiga, aql adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman empirik dalam berbagai kondisi. Keempat ,aql adalah potensi untuk mengetahui akibat sesuatu dan memukul syahwat yang mendorong pada kelezatan sesaat. 
Dengan demikian orang yang berakal adalah orang yang didalam melalukan perbuatan atau tidak melakukan perbuatan didasarkan pada akibat yang akan muncul bukan didasarkan pada syahwat yang mendatangkan kelezatan sesaat. Aql yang pertama dan kedua merupakan bawaan sedangkan aql yang ketiga dan keempat merupakan usaha.
Di dalam al-Qur`an, kata aql dalam bentuk kata benda tidak ditemukan yang ditemukan di dalam al-Qur`an adalah kata kerjanya yakni ya’qilun, ta’qilun dan seterusnya. Aqala ( fi’il Madli, kata kerja lampau) berarti menahan atau mengikat. Dengan demikian al-A’qil (isim fail) berarti orang yang menahan atau mengikat hawa nafsunya sehingga nafsunya terkendali karena diikat atau ditahan. Sedangkan orang yang tidak mempunyai aql tidak mengikat nafsunya sehingga nafsunya liar tak terkendali.
·         Al-Nafs (dalam arti : Nafsu)
Menurut al-Ghazali nafsu diartikan “Perpaduan kekuatan marah (gadlab) dan syahwat dalam diri manusia”. Kekuatan ghadlab pada awalnya tentu untuk sesuatu yang positif seperti untuk mempertahankan diri, mempertahankan agama dan sebagainya. Dengan adanya ghdlab itulah jihad diperintahkan dan kehormatan diri terjaga. Dengan kekuatan marah seorang wanita menolak untuk dinodahi agama dan kehormatannya. Dengan kekuatan marah seseorang dapat menumpas kedhaliman dan sebagainya. Namun ketika gadlab tidak terkendali maka yang terjadi adalah kehancuran dan akhlak tercela. Demikian juga dengan syahwat (syahwat sek) perkembangbiakan manusia tetap berjalan, perpaduan antara pria dan wanita yang membentuk satu keluarga bisa terjadi sehingga akan terbentuk komunitas sosial. Dengan syahwat (makan dan minum), muamalah mencari rejeki dapat berjalan. Bisa dibayangkan seandainya tidak ada syahwat makan, minum dan sebagainya tentu roda perekonomian tidak mungkin berjalan. Namun bila syahwat tidak dikendalikan maka yang terjadi adalah kehancuran dan akhlak tercela.
DAFTAR PUSTAKA
·         Isep Zainal, Bimbingan Penyuluhan Islam, Jakarta : Razawali Pers, 2009.
·         psikologi.uin-malang.ac.id/PSIKOLOGI_UIN/download1.php
·          http://tarbiyatuna.wordpress.com/2007/02/13/tiga-unsur-manusia-2/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar